Rabu, 01 Desember 2021

MENJELAJAHI ALAM DIGITAL YANG LUAS

Rabu, 01 Desember 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 3

Resume ke     : 14

Tema             : Menjelajahi Alam Digital yang Luas

Nara Sumber : Maesaroh, M.Pd.

Moderator     :  Ms. Phia


Di pertemuan GMLD kali ini, Ms. Phia sebagai moderator yang super duper ramah dan energetik memperkenalkan sang blogger milenial, Bu Maesaroh sebagai nara sumber yang WOW. Beliau menyampaikan materi yang mantap sekali. Materi yang disampaikan beliau pada pertemuan ini ibarat roti manis dengan isi stroberi yang lezat, sangat padat, berisi dan pas dengan yang kami butuhkan sebagai salah satu motivator literasi digital nantinya (jika LULUS 😉😉😊). 

Tidak terasa hari ini sudah pertemuan ke-14. Rasanya baru kemarin grand opening GMLD dilaksanakan, rasanya baru kemarin juga saya belajar membuat blog agar bisa mendaftar menjadi peserta di grup GMLD ini. Semenjak bergabung di grup ini, secara tak sadar, langkah demi langkah mulai berani saya tapaki di dunia digital. Sebelumnya hanya bergelut dengan WA, google search engine, paling favorit facebook. Tapi sekarang sedikit demi sedikit mulai terbuka cakrawala betapa luasnya alam digital, betapa sesungguhnya masih banyak hal yang belum dijelajahi, perlu dipahami dan betapa banyak hal positif yang dapat ditebar di alam digital, tidak hanya sekedar mengunjungi facebook, mengabsen status peselancar media sosial atau melihat berita-berita viral yang lagi trend.

Alam digital merupakan alam maya dengan segala media atau aplikasi yang ditawarkannya seperti WA, FB, IG, Twitter, Google dan lainnya dengan tujuan seperti berkomunikasi, menggali, berbagi ilmu, dan memperluas jaringan. Dalam menjelajahi alan digital ini tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami seperti 4 pilar atau dasar dalam literasi digital:

👉 Digital Culture (budaya bermedia digital) yang menggambarkan internet secara signifikan sebagai alat yang membantu manusia berinteraksi. salah satunya adalah blogging.

   👉 Digital Safety (aman bermedia digital) yaitu kemampuan dalam melindungi diri dan aset digital ketika sedang berada di dunia digital.

          👉  Digital Ethics (etis bermedia digital) merupakan kemampuan untuk mengukur prilaku diri sendiri dalam bemedia digital. Misalnya bijak dalam menggunakan dan menerima informasi di dunia digital dengan tidak mengalahgunakan alat digital sebagai penyebar informasi hoaks

                👉 Digital Skill (cakap bermedia digital) merupakan kecakapan dalam menguasai piranti digital seperti  Coding, Collaboration, Cloud software, Word Processing software, Screen Casting, Personal digital archiving, Information Evaluation, Use of social media.

Keempat pilar ini tentunya bukanlah hal yang terpisah-pisah. Untuk mengembangkan budaya bermedia digital, kita semua terutama anak muda jaman sekarang  harus pintar dalam memilah mana yang baik atau buruk atau mana yang aman atau tidak. Selain itu juga harus beretika dan bertanggung jawab tentang apa yang didapat atau dijelajahi di dunia digital. Untuk itu kita harus cakap dalam hal piranti digital, cerdas bermedia sosial dan  berliterasi digital. 

Menyoroti pilar ke dua mengenai keamanan bermedia digital, sebagai peselancar alam digital, harus di sadari bahwa alam luas dunia digital ibarat dua sisi mata uang. Dunia digital tidak hanya menghadirkan kemudahan informasi, kecanggihan sistem kerja, peluang usaha yang menjanjikan atau hal-hal positif lainnya, tetapi juga ada dampak negatif yang selalu megincar penggunanya jika tidak hati-hati.  

Seperti yang disampaikan oleh nara sumber ada beberapa dampak negatif dunia digital seperti cyber bullying, kekerasan dunia maya, facebook depression, kecanduan, sexting, digital fatigue (kelelahan dalam menggunakan media digital) dan lainnya. Dampak negatif dunia digital ini seringkali dialami oleh generasi muda hususnya para pelajar. 

Memang benar  generasi muda yang merupakan generasi Z memiliki banyak kecakapan bermedia digital. Tidak jarang kita temui banyaknya siswa yang lebih hebat dalam penggunaan teknologi atau piranti digital diatas guru-gurnya. Tetapi ada satu hal yang perlu dijadikan catatan apakah generasi muda yang sangat cakap bermedia digital ini sudah memiliki pemahaman literasi digital yang baik?

Kurangnya pemahaman literasi digital akan berpengaruh pada dampak psikologis anak dan remaja dimana mereka akan cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan. Atas dasar pandangan tersebut, hal inilah yang menyebabkan dampak buruk dalam berinteraksi atau akan membawa dampak negatif pada mereka.  

Oleh karena itu, edukasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam meningkatkan budaya, keamanan, etika dan kecakapan berliterasi digital agar para generasi penerus bangsa mampu menyaring  informasi dan menjelajahi luasnya alam dunia digital dengan baik, smart dan bijak. Disinilah guru perlu ikut andil dengan memainkan dan mengoptimalkan perannya untuk membantu dan mengembangkan pemahaman literasi media (seperti literasi FB, literasi Wa, literasi YouTube dan lainnya) dan literasi digital siswa-siswanya sebagai generasi penerus bangsa, GENERASI EMAS INDONESIA, yang berkarakter bangsa.

Selain itu ada 8 elemen penting untuk mengembangkan literasi digital: 

🔆Kultural, pemahaman ragam konteks pengguna digital.

🔆Kognitif, yaitu daya pikir menilai konten.

🔆Konstruktif, reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual.

🔆Komunikatif, pemahaman kinerja & jejaring di dunia digital.

🔆Kepercayaan diri yang bertanggungjawab.

🔆Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru.

🔆Krisis dalam menyikapi konten.

🔆Bertanggungjawab secara sosial.

 

Lalu bagaimana caranya? 

Berdasakan dari apa yang dijelaskan oleh nara sumber, ada 5 cara dalam meliterasi media sosial yaitu:

1. Perhatian.
Perhatian adalah satu hal penting yang harus dilakukan. Perhatian dapat dicapai dengan memahami bagaimana pemikiran orang. 

2.    Partisipasi
Mengetahui kapan dan bagaimana partisipasi merupakan hal penting. Partisipasi memberikan pengguna pengalaman berbeda. Partisipasi dalam media sosial dibedakan menjadi dua yaitu netizen aktif dan netizen pasif. Netizen aktif merupakan pengguna media sosial yang ikut memberikan post di media sosial. Sedangkan pengguna pasif merupakan pengguna media sosial yang hanya membaca lini masa media sosial tanpa memberikan posting-an.
3.    Kolaborasi
Pengguna dapat mencapai lebih dengan bekerja sama dibandingkan dengan bekerja sendirian. Melalui kolaborasi, redudansi dapat dihilangkan dan pekerjaan dapat didistribusikan. Adanya kolaborasi memungkinkan masyarakat berbagi sumber daya dan membangun ide lain.
4.    Kesadaran jaringan
Jaringan sosial saat ini diperluas dengan adanya teknologi. Saat ini masyarakat dapat menjadi anggota dari newsgroup, komunitas virtual, situs gossip, forum dan organisasi lainnya. Untuk itu, pemahaman mengenai sosial dan jaringan teknis sangat diperlukan.
5.    Pemakaian secara kritis
Pemakaian secara kritis adalah evaluasi tentang apa dan siapa yang dapat dipercayai. Sebelum mempercayai, mengkomunikasikan, atau menggunakan apa yang ditulis oleh orang lain, ada baiknya melakukan identifikasi. Cek klaim yang terdapat dalam informasi tersebut, lihatlah latar belakang penulis, sumber daya dan keakuratannya.


Badan pegel pergi ke warung membeli jamu

Jamu diminum agar pemyakit tidak kumat

Ayo guru hebat nan semangat optimalkan peranmu 

Bimbing generasi EMAS jelajahi alam digital dengan selamat 


Nur Azizah

 

1 komentar:

Hi ...

  Hi ...  it's so long... I miss this blog  so much . So sorry, for not seeing you for so long. Thanks CGP, after years, I write somethi...