Senin, 01 November 2021

MEMBANGUN DIGITAL SPACE YANG AMAN UNTUK ANAK

Senin, 01 Nopember 2021

Judul               : Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Grup               : 3

Resume ke     : 1

Tema             : Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak

Nara Sumber : Wijaya Kusuma, S.Pd., M.Pd.

Moderator     :  Dail Ma'ruf, M.Pd.

 

Hari ini adalah hari pertama dimulainya pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) yang sebelumnya grand opening kegiatan ini diadakan pada hari sabtu tanggal 30 Oktober 2021. Pelatihan ini GMLD ini  memiliki 6 grup. Hal ini dikarenakan banyaknya guru yang tertarik, antusias dan terinspirasi dengan pelatihan ini. 

Salah satunya saya yang berkesempatan bergabung di grup 3. Berawal dari "maju mundur cantik" untuk mendaftar pelatihan GMLD ini dimana sangat besar keingininan dan ketertarikan untuk "maju" tapi besar pula keraguan akan kemampuan sehingga berpikir untuk "mundur". Tapi ribuan semangat ditularkan oleh Bapak Wijaya Kusuma yang akrab disapa Om Jay dan timnya sewaktu saya mengikuti webinar dan grand opening GMLD seperti angin segar yang membuat saya memberanikan dan menyakinkan diri untuk mengikuti kegiatan ini. 

Disini lah saya, yang sekarang mulai memiliki blog dan "mengukir cerita" di awali dengan kegiatan GMLD. 

Tema pertama yang disampaikan oleh Om Jay, sebagai nara sumber, motivator dan juga founder group belajar menulis PGRI hari ini sangat menarik perhatian saya. Hal ini mungkin dikarenakan status saya sebagai orang tua sekaligus guru yang mempunyai kekhawatiran akan sisi negatif dari banyaknya sisi positif yang di tawarkan oleh dunia digital terutama bagi anak-anak yang tumbuh di era milenial ini. 

Salah satu hal yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi fokus perhatian utama bukan hanya menyiapkan alat atau fasilitas bagi anak berdigital ria tetapi bagaimana cara membangun tempat yang aman untuk anak dalam bermedia digital. Ini dilakukan agar berbagai resiko kejahatan di ruang digital yang mengintai dan mengancam anak-anak, generasi emas penerus bangsa dapat diminimalisir bahkan dihindari. Resiko kejahatan tersebut seperti kecanduan games, cyberbully, pelanggaran privasi, kejahatan seksual dan lain-lain.

Lalu bagaimana cara membangun ruang yang aman tersebut?

Tentunya pertanyaan ini selalu berkecamuk dibenak kita, tidak sedikit juga dari kita yang sudah mengusahakan berbagai cara agar anak-anak aman dalam dunia digitalnya.

Dari materi yang disampaikan Om Jay pada pertemuan pertama ini ada beberapa cara  yang tentunya efektif untuk diterapkan dalam membangun digital space yang aman untuk anak, yaitu:

👍 Mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital.

👍 Kita harus memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital.

👍 Kita harus menyadarkan anak tentang apa saja resiko kejahatan siber pada anak.

👍 Aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta.

Dari cara-cara diatas yang menjadi poin lebih perhatian saya adalah poin terakhir, "aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta".

Satu baris kalimat diatas mempunyai makna yang dalam salah satunya bagi orang tua untuk memainkan perannya dengan smart, bijak dan benar. Berat memang tapi harus diupayakan dan dimaksimalkan untuk menjaga keamanan anak di dunia digital. Ini menjadi PR untuk kita semua sebagai orang tua.

Setuju sekali ketika disampaikan bahwasanya orang tua harus mampu menjadi pemandu buat anak dalam literasi digital, peka terhadap pola prilaku anak dalam bermedia digital, lebih waspada dan mau belajar tentang literasi digital.

Saya teringat obrolan dengan salah satu kerabat ketika membahas salah satu media sosial yang diikuti anaknya. Ketika itu saya bertanya: "apakah pernah isi media sosial atau HP yang digunakan anaknya diperiksa?" Ternyata jawabnya "tidak". Ini  dikarenakan ketidak pahamannya akan media sosial dan penggunaan HP canggih tersebut. Hal seperti ini dapat membuat anak-anak kurang mendapatkan pendampingan ditengah-tengah banyaknya resiko kejahatan digital.

Untuk itu, sudah saatnya orang tua MELEK Literasi Digital salah satunya mengikuti kegiatan seperti GMLD ini. Dengan berusaha memahami, mengup-date diri dengan dunia digital dan terus belajar, orang tua tidak hanya mampu memfasilitasi tetapi juga dapat  memandu, mengontrol bahkan dapat menjadi teman, berinternet bersama dengan anak di dunia digital tentunya dengan aman dan nyaman.

Lebih lanjut lagi, hal yang membuat saya terketuk dari pembahasan "aman berinternet bersama anak" adalah ketika disampaikan bahwa orang tua juga seharusnya dapat menjadi teladan digital atau rule model yang baik. Satu pertanyaan terlintas dibenak saya yang ragu untuk saya jawab: SUDAHKAH SAYA? SUDAHKAH KITA? menjadi teladan digital yang baik untuk anak-anak?

Mengikuti GMLD ini merupakan salah satu usaha untuk menjawab pertanyaan tersebut.

        

💖 Kesimpulan:   

   👉Orang tua harus sebagai rule model

        👉Dampingi anak saat mengakses internet

            👉 Batasi waktu atau durasi penggunaan gadget

                   👉 Diskusikan tentang resiko atau dampak buruk dari penggunaan gadget yang berlebihan

                        👉Risiko kejahatan ruang digital bisa diatasi dengan kecakapan literasi digital  

                               👉Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga harus lebih cermat dan bijak dalam 

                                     ruang digital

Sebelum mengakhiri pertemuan ini, Om Jay menjelaskan bahwa membangun digital space yang aman untuk anak harus dimulai dari kita sebagai orang tua. Ibarat membangun rumah, maka pondasinya harus kuat dan kita harus mulai menanam pohon pendidikan.

 

Begitu bermakna dan menggugah materi yang disampaikan oleh nara sumber, Om Jay, mengenai tema pada pertemuan pertama GMLD ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin...


 Nur Azizah

20 komentar:

  1. Tulisan Perdana Yang menarik. Keren bu.

    BalasHapus
  2. Tulisannya bagus ..tampilan keren...👍

    BalasHapus
  3. Terima kasih ibu, mohon arahannya selalu🙏🙏

    BalasHapus
  4. Selamat dan Salut dengan semangat Bu Azizah. Smg tetap sehat wal afiat senantiasa dlm lindungan Allah Tuhan YMK.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...doa yang sama buat bapak, semoga kita selalu sehat dan semangat dalam aktifitas2 kita diruang positif ini...aamiin..

      Hapus
  5. Aamin. Luar biasa. Calon motivator literasi digital. Sukses ya ...

    BalasHapus
  6. Tulisannya bagus, berupa pendapat dari si penulis sendiri, bukan asal copas materi, good job. 👍

    BalasHapus
  7. Guru yang seperti ini yang diharapkan siswanya untuk mampu mengarahkan makna dan pengaruh penggunaan media sosial di era globalisasi seperti sekarang ini. Mantap. Lanjut terus bu guru....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak atas supportnya selalu ... Semoga tinta yang diukir bermanfaat bagi semua...aamiin

      Hapus
  8. wow cepat dan kren resumenya. moga terus semangat

    BalasHapus
  9. Menginspirasi sekali... Tulisannya bagus..👍👍👍👍 semangat untuk kita semua

    BalasHapus
  10. Yo... Kite kemon... God job sis

    BalasHapus
  11. Masyaa Allah, Atas izin Allah SWT buguru diberi kemudahan utk slalu menjadi motivator yg bisa memotivasi jiwa yg kering dan kurang melek digital, jdi pengen jg bisa nulis menuangkan gelisah hati menjadi bentuk tulis yg senantiasa menumpuk dlm relung. Tetap semangat bu Guru, guru sejati idola remaja era digital

    BalasHapus
  12. Balasan
    1. Ibu maaf, maksudnya menulis postingan diblog kita bu ya? misalnya menulis resume? setelah buka blog kita klik postingan baru, kemudian tulis judul dan resume ditempat yang disediakan. Setelah selesai klik publish dan bagikan. Semoga bisa membantu ibu

      Hapus

Hi ...

  Hi ...  it's so long... I miss this blog  so much . So sorry, for not seeing you for so long. Thanks CGP, after years, I write somethi...